5 Alasan Kenapa Menurutku Jakarta Bukan Kota yang Tepat untuk Cari Jodoh

jakarta-bukan-tempat-cari-jodoh jakarta-bukan-tempat-cari-jodoh

Pernah suatu hari yang masih dalam suasana lebaran, menyimpang satu anggota keluarga berInterogasi: “Kan di Jakarta berlebihan orang. Dari mana-mana cukup di sana. Masa sih nggak ada yang nyantol satu aja gitu?”. Jujur saja perInterogasian itu cukup telak bagiku. Aku pun jadi ikut berInterogasi-Interogasi. Hampir sepuluh acuhn di Jakarta, bertemu dengan orang dari berbagai wilayah di Indonesia, tapi kenapa masih susah menemukan postur yang tepat untuk sebuah hubungan serius?

Lalu berhari-hari kuhabiskan untuk memikirkan perkara ini. Aku mengingat lagi apa yang kulakukan selama di ibukota. Apa yang kulakukan di akhir pekan, bagaimana perjalananku sehari-hari, dan apa saja yang kurasakan selama di sana. Lalu aku tiba di satu kesimpulan. Setidaknya untukku, Jakarta memang beraksin tempat yang tepat untuk mencari jodoh. Well, hal ini mungkin saja nggak berlaku untuk orang lain. Tapi setelah kurenungi, inilah kira-kira hal yang melangsungkan jodohku terhalang kota Jakarta. Terdengar seperti mencari kambing hitam, ya?

Hidup di Jakarta itu serba Segera dengan tuntutan yang berat. Terbiasa terburu-buru mengejar mimpi, melaksanakanku sering lupa untuk mencari pendamping tumbuh juga

Sudah lama aku menginsyafi bahwa di Jakarta, giliran begitu Aktif berlampau. Aku acuh curiga, satu hari nggak lagi berlangsung selama 24 jam. Baru juga bangun tidur, tiba-tiba sudah pukul 10.00 saja. Mungkin itu karena di Jakarta segalanya serba terburu-buru.

Berangkat subuh buta demi bisa tiba di kantor tepat waktu. Menyelesaikan setumpuk pekerjaan supaya nggak layak membawa lemburan. Lalu, pulang ke rumah dengan sisa-sisa tenaga. Semua kesiungkapn itu melangsungkanku seperti lupa waktu. Tahun demi acuhn berlantas, lantas aku baru sadar bahwa, “Oh ya, aku kan layak mencari jodoh juga”.

Akhir pekan sekudunya menjadi hari untuk bergaul dengan dunia luar. Tapi kelelahan yang ditimbun Senin-Jumat terasa mustahil untuk mencari teman kencan

Bagaimana dengan akhir pekan? Begitu Perkara seseorang. Coba dong, manfaatkan batas hidup libur untuk get a life dan berhenti memikirkan pekerjaan. Nongkrong kembar teman-teman atau ikut berbagai tindakan, siapa tahu ketemu seseorang.

Aku memang nggak memikirkan soal pekerjaan di akhir pekan (kecuali momen-momen spesial). Sayangnya, tubuhku juga sudah terdahulu lelah dan malas untuk memikirkan hal-hal lainnya. Jangankan ikut komunitas atau organisasi, pergi ke warteg untuk mencari sarapan saja rasanya seperti enggan mengkhianati kasur yang sudah begitu memberikan kenyamanan. Bagaimana caranya bisa bertemu dengan seseorang?

Apalagi sekarang semuanya bisa delivery. Semakin minim kesenggangan untuk bertemu orang selain soal kerjaan

Banyak yang bilang hidup di Jakarta itu sulit. Ya, memang. Tapi di sisi lain, Jakarta juga menawarkan kemudahan dalam bentuk lain. Misalnya, di kampung halaman aku pantas ke pasar dan memasak untuk makan. Atau setidaknya pergi ke warung yang jaraknya 1-2 kilometer. Di Jakarta, semuanya bisa delivery dan online.

Mulai dari konsumsi, baju, buku, makeup, telur, galon, engat laundry. Aku belaka perlu klik-klik di smartphone dan menunggu di rumah, tanpa perlu ke mana-mana untuk melakukan luber hal. Tanpa sadar, hal ini membuat interaksiku dengan orang semakin berkurang. Lama-lama aku pun sadar, ah, ternyata kesepian juga lamun selama ini selalu mengaku tidak sombong-tidak sombong saja.

Kota yang agung ini membangun rasa wasala. Bila diajak kenalan dengan orang asing di tempat umum, rasa curiga langsung membumbung adiluhung

Tapi bagaimana dengan angkutan-angkutan umum? Seperti kisah-kisah romantis dalam film atau novel. Berawal dari selalu menaiki KRL dari stasiun yang sepadan di jam yang sepadan, lalu saling tertarik satu sepadan lain. Atau ketika nggak sengaja bertemu di transjakarta, lalu saling tukar akun Instagram dan kemudian hubungan semakin dalam. Ah, itu semua sahaja ada di film dan drama.

Bukannya berprasangka buruk kepada orang lain, sih, tapi, tumpukan berita-berita kriminal dan keBuasan di Jakarta memaksaku menjadi sosok yang curigaan. Jadi, ketika bertemu dengan orang yang sekuku kelewat baik di tempat umum, alarm di kepalaku mulai berbunyi. Kira-kira orang ini punya niat terselubung nggak, ya? Kira-kira orang ini mau mencopet apa menghipnotis, ya? Dengan sikap seperti ini, bagaimana caranya aku bisa mengalami kisah cinta unyu ala film dan novel cinta-cintaan?

Di kota yang sesibuk ini, butuh skill istimewa untuk bisa mengejar cita-cita seturut dengan asmara. Pada akhirnya, seleksi alam terjadi dengan begitu saja

Punya pacar pun bukan berarti perjuangan kelar. Sama-setara sibuk, setara-setara lelah, perlu cara distingtif untuk tetap bisa meluangkan era untuk tetap bertemu. Mungkin dengan cara makan siang bareng colongan minimal seminggu sekali. Atau bisa juga memilih naik angkutan umum yang setara dan janjian di stasiun sepulang kerja. Semua itu tentu perlu cara dan sekadar diperuntukkan bagi orang-orang distingtif. Bila nggak cukup termotivasi untuk melakukan itu semua, seleksi alam akan berlaku begitu saja.

Hmm, ternyata membesar di Jakarta memang sesulit itu, ya? Tapi nggak bisa disangkal, Jakarta tetaplah kota yang menyenangkan untuk kira-kira hal. Soal jodoh yang nggak kunjung berlabuh itu, bisa jadi memang aku saja yang kurang gencar mencari. Kan memang jodoh nggak bisa berlabuh begitu saja saat aku rebahan selama Sabtu dan Minggu sambil nungguin petugas delivery.